Sabtu, 31 Desember 2011

tahun baru

Tak berbeda seperti malam-malam sebelumnya. Yang berbeda mungkin karena malam hari ini banyak orang yang menyalakan kembang api dan meniup terompet. Gemuruh suara kembang api saling bersahutan pada malam ini.Selain kedua hal tersebut rasanya semua malam sama saja. Tapi ini memang malam istimewa sih.

Detik-detik pergantian tahun.

and then.....

selamat tahun baru. . .untuk kita semua

Rabu, 28 Desember 2011

Saya menulis ini tanggal 25 desember. 3 hari berlalu setelah hari Ibu yang diperingati tanggal 22 desember. Situs-situs jejaring sosial penuh dengan ungkapan-ungkapan yang mengekspresikan seorang ibu. Beberapa diantaranya mengekspresikan seberapa besarnya cinta ibu, apa saja yang telah dilakukan seorang ibu, dan betapa ibu adalah sesuatu tak tergantikan dalam hidup seorang anak. 

Saya bersyukur dilahirkan ditengah-tengah keluarga yang bahagia dan harmonis. Tak pernah saya dapati hal-hal buruk mengenai hubungan ayah dan ibu saya. Semua berjalan begitu sempurna hingga saat ini. Alhamdulillah. 

Tiap tahun saya peringati hari ibu dengan sukacita. Entah mengapa selalu ada perasaan bersalah yang saya rasakan pada hari itu. Rasa bersalah karena selama ini apa yang saya lakukan tidak sebanding dengan apa yang sudah ibu lakukan. Rasa bersalah karena sering melawan,sering tidak patuh pada nasehat, dan sering berbohong juga pada ibu. Setelah mengingat semua, rasanya seperti prajurit ditengah peperangan, rela berkorban apa saja dengan jiwa dan raga untuk ibu tersayang (gitu juga kan kamu?boong banget kalo enggak). 

Tetapi setelah semakin dewasa, banyak hal-hal kompleks yang saya dapati mengenai seorang ibu. Tidak semua anak di dunia ini beruntung seperti saya ternyata. Banyak potret kehidupan mengenai ibu yang jauh sekali dari yang saya miliki saat ini.

Ini kisah nyata. Ada seorang perempuan yang saat ini menjadi warga binaan pemasyarakatan(WBP) a.k.a narapidana pada salah satu Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia. Untuk ketiga kalinya dia masuk bui karena kasus narkoba. Anaknya 3 bro. Bayangin gimana perasaan anaknya, bayangin gimana kalau kita jadi anaknya, bayangin juga gimana kalo ibu kita seperti itu. Gimana??  Entar deh lanjutannya. Coba pikir dulu gimana...

 Terlepas dari segala potret kehidupan tentangmu ibu. Apapun dan Bagaimanapun dirimu. Engkau adalah segalanya bagi kami. WE LOVE U MOM!!





Kamis, 15 Desember 2011

something about bali



Tadi pagi menjelang siang, saya menonton ftv berjudul “something about bali” di salah satu chanel. Cukup menarik, karena isinya sangat manusiawi sekali. Sepasang kekasih yang merencanakan pernikahan harus berpisah karena tragedi naas. Sang pria harus meninggalkan wanitanya karena tewas dalam sebuah kecelakaan. Pernikahan yang dirancang indah harus berakhir dengan air mata. Perpisahan karena jarak,waktu, dan dunia. Tragis.

Hanya sebuah ftv sih. Tapi cukup membuat saya terharu. Yang ada dalam pikiran saya saat itu mungkin sama dengan pikiran orang-orang yang saat itu juga tengah menikmati ftvnya. “Bagaimana ya jika itu terjadi dalam hidup saya?”. Tarik nafas dalam-dalam. Masih mending putus atau diputusin walaupun rasanya sama-sama hancur juga, tapi setidaknya kita masih bisa melihat atau paling tidak kita tahu dia baik-baik saja di belahan bumi yang lain.

Dalam ftv tersebut sang wanita tidak mampu menerima kenyataan bahwa sang pria telah pergi selama-lamanya. 5 tahun tidak cukup untuk membuat dia memahami kepergian kekasihnya. Bagaimana kalau itu terjadi pada kita. Seumur hidup pun mungkin takkan mampu mengobati luka itu. 

Karena saya seorang muslim, maka saya mencoba memahaminya melalui pendekatan agama saya yang menyebutkan bahwa hidup, mati, jodoh, maupun rezeki sudah diatur oleh Tuhan. Kita masing-masing tidak akan pernah tahu apa yang terjadi esok hari karena semua adalah misteri ilahi. 

Ini membuat saya merenungi setiap hari-hari yang sudah saya lalui. Saya adalah seorang yang perfeksionis dan egois. Terkadang saya berkhayal terlalu jauh mengenai masa depan saya. Merencanakan hal-hal yang sebenarnya belum terlalu penting. Terlalu memaksakan diri atas hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. Itulah saya.

Saya jadi teringat sebuah kalimat dialog dalam film “Letters to juliet” yang pemeran utama perempuannya Amanda Seyfried. Pemeran utama laki-lakinya saya lupa. Dalam dialog itu si perempuan mengatakan bahwa ia adalah seorang yang perfeksionis. Lalu si laki-laki menjawab “perfeksionis adalah cara halus untuk mengatakan bahwa sebenarnya kau pengecut”. Dan sekarang saya menyadari itu.

Saya menulis ini sore hari ketika hujan loh. Dalam naungan hujan saya merenung. Akhirnya saya dapatkan wacana bahwa saya harus berubah. Berubah dalam artian merubah cara pandang saya selama ini. 

Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, besok, ataupun lusa. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah berusaha menjalani hari sebaik mungkin. Bersyukur atas apapun yang kita terima. Jika harus menangis maka menangislah, dan jika mampu bertahan maka tersenyumlah meskipun senyuman itu semakin menyayat luka.

Selasa, 13 Desember 2011

Lanjutkan langkah

Insyaallah tidak akan menyesal karena semua dilakukan untuk membahagiakan orang tua. Selamat tinggal kisah tak berujung. . . .

TWAS


TWAS

Bingung memulainya darimana. Saya berharap dia ada disini. Sekarang, dan bukan nanti. Saya merindukan hangat peluknya, canda tawanya, kehangatan keluarganya. Dia mengajari saya jujur. Dan kini setelah kami jauh dan setelah semuanya terjadi,  saya baru memaknai apa yang telah dia ajarkan kepada saya. Adakah yang lebih baik dari jujur? Yang tidak melukai hatinya maupun hati kecil saya. Tanpa menyeret kami jatuh ke jurang yang paling dalam.
Kali ini saya benar-benar jatuh. Meskipun ada orang lain dihati saya, tetap tidak bisa menggantikannya di tempat itu. Sudut kecil dimana dia berdiam dihati saya. Tak pernah beranjak, meskipun sering saya membuatnya terluka. 3 tahun bukan waktu yang sebentar untuk menghapusnya begitu saja. Bagaimana saya harus menghadapinya. Saya ingin bertemu dengannya. Memeluk hangat tubuhnya. Tapi tak mampu menatap matanya.
Saya tahu waktu tidak akan pernah kembali. Sekeras atau selama apapun saya menangis, waktu tidak akan pernah iba kepada saya. Lalu bagaimana ini. Harus bagaimana saya. Mungkin sekarang hanya ada amarah dihatinya. Saya yakin sudah tidak ada cintanya untuk saya. Mungkin saya adalah perempuan paling kejam dalam hidupnya. Saya terima, HANYA UNTUK SEBUAH KEJUJURAN. Ini adalah harga paling mahal yang saya terima dari kejujuran. Saya menukar sebuah kejujuran, dengan sumber kebahagiaan yang tak pernah surut kepada saya selama ini.
Jangan pernah main-main dengan kejujuran. Karena kamu tidak akan pernah tahu apa saja yang dapat direnggutnya dari hidupmu!
Yasudah. Tegakkan kepala, lanjutkan perjalanan, hadapi semua yang ada di depan. Untuk membanggakan orangtua.
Tuhan, luangkanlah sebentar. . .

Senin, 12 Desember 2011


Ku cium kau tanpa rencana
Ku peluk kau tanpa rencana
Apapun kubawa kau kemana saja
Meski tanpa rencana. . .

Di atas ini adalah penggalan lirik lagu “tanpa rencana” dari band Kunci. Pernah nggak sih mikir apa jadinya hidup tanpa rencana?? Mungkin mayoritas orang berpendapat tidak mungkin akan berhasil jika hidup itu tanpa rencana. Lalu bagaimana dengan cinta?? Apakah harus ada rencana juga agar berhasil? Lalu apa tolak ukur keberhasilan dari cinta?
Omong-omong masalah cinta, ga bakal jauh-jauh dari hati. Pengalaman pribadi ini. Jadi saya tidak tahu kapan tepatnya saya berganti hati. Selama hampir tiga tahun, yang mengisi hati saya adalah TWAS(inisial). Entah kapan tepatnya yang jelas sekarang WSES(inisial juga) yang mengisi hati saya.
Bukan tanpa alasan saya berganti hati. Jauh. Itu alasannya sehingga akhirnya saya berganti hati. Segitu parahnya kah hingga harus berganti? Apa hati yang lama sudah tak mampu lagi bertahan? Yah, hanya Tuhan yang tahu itu. Yang jelas ini semua terjadi tanpa rencana.
Sekarang WSES yang mengisi hati saya. Saya tak pernah berencana mengisi hati saya dengannya. Diapun juga pasti tak pernah berencana masuk ke  hati saya. Kalau sudah begini, maka saya anggap ini adalah rencanaNya yang saya yakin adalah yang terbaik.
Saya mau cerita sedikit nih tentang WSES. Dia itu laki-laki yang sudah dewasa. Selisih umur kami 7 tahun. Selisih umur yang ideal kata orang-orang. Dulunya ketika masih kuliah dia adalah mahasiswa yang aktif di organisasi pecinta alam.  Naik  gunung, masuk gua, keliling hutan, kurang lebih seperti itu kegiatannya. Sekarang dia masih aktif kok dengan kegiatannya tersebut, tapi di hati saya. Sihiyyy
Entah kenapa dia itu ibarat seperti doping dalam hidup saya. Dulu saya juga pernah punya blog, tapi sama sekali tidak ada postingan dalam bentuk tulisan. Susah banget mau nulis, rasanya kaya sakit pilek akut. Mampet, macet, dan otak tersumbat. Dia itu seperti ekspektoran kayaknya, mengencerkan dahak di otak yang menyumbat kreatifitas saya. Sekarang rasanya lega dan plong. Segini deh soal WSES.
Lalu mengenai hubungan kami. Kalau orang lain yang melihat pasti berpendapat bahwa kami pacaran. Saya sendiri sebenarnya juga kurang tahu kalau ditanya orang. Dan ini terus terang membuat saya agak galau pada awalnya, tetapi sekarang tidak. Yang pasti hubungan kami lebih kompleks dari kata “kompleks” itu sendiri. Saya memiliki dia lebih daripada yang dimiliki orang berpacaran. Yang paling membuat saya bahagia adalah saya memiliki tatapan matanya untuk saya. Tatapan mata yang mungkin tidak pernah dimiliki orang lain. Saya berharap dan berdoa akan memilikinya dalam jangka waktu yang lama, yang mungkin sampai saya sendiri sudah tidak mampu melihatnya lagi. Amin.
Intinya nih......
Mencintai maupun menyayangi seseorang adalah segelintir dari hal-hal yang mampu kita lakukan tanpa rencana. Padahal mencintai maupun menyayangi adalah hal yang besar. Jadi, jika kita mampu melakukan hal yang besar tanpa rencana, maka tidak ada alasan untuk kita tidak mampu melakukan hal-hal besar lainnya.....dengan atau meski tanpa rencana! 



Senin, 05 Desember 2011

hujan

hujan
lapar
lelah
galau
takut
bosan
cemburu
dingin
berpikir
bingung
diam
mengetik
teringat
terbayang
tahu
mengerti
melayang
tidak mengerti
sejenak
mengerti lagi
mencari
spasi
membalas
jenuh
berharap
curi pandang
bertanya

ya sudah.
negosiasi, cari mamam saja akhirnyaaaaaa.....

Minggu, 04 Desember 2011

Rindu rumahku

Rumah itu ada
Rumah itu terlihat

meskipun jauh....................

ini ceritanya...

Kiriman file video dari adik saya akhirnya datang juga. Isinya tentang rumah saya. Buat apa?

Jadi ceritanya gini. Beberapa waktu yang lalu ada seorang teman (lebih tepatnya kakak laki-laki yang tidak pernah saya miliki) pulang kampung. Kampung halaman kami sama yaitu Sragen, dan kamipun sama-sama anak rantau ceritanya. Sebulan sebelum kepulangannya itu saya meminta adik saya di rumah untuk mendokumentasikan rumah kami, karena isu yang beredar dalam keluarga menyebutkan ada perombakan atau renovasi kecil di rumah. Setelah itu rekaman tersebut dititipkan ke teman saya itu untuk diberikan ke saya ketika pulang kembali ke tanah rantau.

Isu-isu itu menyebutkan bahwa kamar tamu dan kamar adik saya digabung kemudian dijadikan kamar tidur orangtua saya. Adik saya pindah kamar ke kamar saya. Jadi barang-barang saya sekarang berada di kamar yang kemarin ditempati oleh orangtua saya. Isu kedua adalah dapur yang kemarin tak berjendela. sekarang ada jendelanya. Kenapa gak dari dulu dibikin jendela? soalnya tetangga belakang rumah yang adalah orang chinese itu protes. Dia bilang kalo nanti kami bikin jendela, mereka mau tinggiin lagi temboknya. Gitu deh sifatnya orang chinong, gak mau dilihat orang rumahnya. Dikiranya kita orang pribumi ngiri kali yah...Juh cuiihhhh....!!

balik ke video.
Setelah melihat video tersebut saya tidak mampu berkata-kata. Hanya air mata yang mengungkapkan segalanya. Campur aduk perasaan saya melihat rumah yang untuk pertama kalinya dalam hidup saya sudah 9 bulan ini saya tinggalkan. Saya berharap ada sadako tiba-tiba keluar dari layar dan kemudian menghisap saya kedalamnya. 

Video tersebut diawali dari anjungan rumah di lantai atas. Taman yang dulu ada di sebelah kanan sekarang pindah ke sebelah kiri. Otomatis area bosscha di rumah kami tambah luas. Area bosscha di sini adalah sebutan dari kami untuk tempat melihat bintang di malam hari.

Kemudian berlanjut ke masuk rumah. Pas di depan pintu masuk itu  ada kursi warna pink. Kursi itu adalah kursi yang sangat bersejarah karena menemani saya belajar dari masih esde sampai es em ma. Pada waktu kuliahpun masih sering saya gunakan sepulang dari kost untuk mengerjakan tugas di rumah. 

Lanjut ke dalam kamar adik saya yang dulunya kamar saya. Nuansanya pink, dari warna dinding hingga selimut. pada waktu kamera menyorot ke meja rias, tampaklah bahwa yang membuat rekaman tersebut adalah papa. Saya pikir rekaman tersebut dibuat oleh adik saya, ternyata salah besar. Adik saya hanya jadi editor saja. Seperti yang sudah saya tulis dipostingan sebelumnya "Di mata papa, sebaik-baik hasil rekaman maupun jepretan kami tetap saja kurang bagus bagi beliau sehingga dengan tekad kuat beliau akan mengambil alih keduanya"

Sebenarnya masih banyak hal tentang rekaman itu yang bila mau akan saya ceritakan. Akan tetapi demi keamanan dan privasi keluarga maka saya cukupkan segitu saja.

Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada siapa saja yang sekarang jauh dari rumah. Sejauh apapun jarak kita dari rumah, hal itu tidak sebanding dengan perasaan rindu kita. Jauh ataupun dekat rindu itu tetap ada dan kuat. Jadi gak bener tuh yang ada di lirik awal lagunya Rindu-Agnes Monica

Selama aku mencari
Selama aku menanti
Bayang-bayangmu dibatas senja
Matahari membakar rinduku
Ku melayang terbang tinggi


Kenapa saya bilang gak bener???

Karena buat saya mau matahari,bulan,dll tidak akan pernah mampu membakar rindu saya kepada rumah yang saat ini tengah saya rasakan. 

(sorry mbak Agnes, kali ini kita tak sejalan. Eloh, Guweh, END!!)




beri sedikit waktu.............

baiklah.
assalamualaykum,selamatpagi,dan seterusnya.


Hari ini tepat 2 hari setelah hari jadi ayah saya tercinta ke-49. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya tidak bisa memberi kecupan dan pelukan hangat untuk beliau karena dia di jawa dan saya di kalimantan. DAMN,DAMN,DAMN.........I MISS YOU PAPAAAAAAAAAAAAHHHH!!!. 

Postingan pertama ini saya dedikasikan untuk ayah saya.

Seorang laki-laki gagah dari daratan borneo yang dengan keberaniannya merantau ke daratan jawa untuk mengubah nasib. So proud of you papaaahh. Gak semua laki-laki mau dan mampu melakukan apa yang telah ayah saya lakukan. Salut deh buat semua laki-laki di belahan dunia ini yang saat ini jauh dari kampung halaman. 

Ayah saya bernama "ANTON SAPUTRO"
Lahir di Montallat, kabupaten Barito Utara, provinsi Kalimantan Tengah. Suku Dayak Bakumpai
tanggal 3 desember 1962.
anak ke-3 dari 7 bersaudara. 5 laki-laki dan 2 perempuan.

Aduh, sebenernya saya mau cerita tentang pernikahan ayah dan ibu saya, tapi mendadak lupa kapan tanggal perkawinan mereka. Ya ampun Tuhan tolong,yang pasti tahun 1987. Tiga tahun setelah itu lahirlah seorang bayi perempuan mungil nan cantik berdarah campuran dayak dan jawa yaitu ME!!! mmhHehe, yaiyalah sape lagee coba?!

Saya tahu dan percaya kalau Tuhan itu menyayangi dan mengasihi setiap umatnya. Sama rata dong pastinya, Tuhan gitu loh...uupss( 86 ya Allah). Saking sayangnya Tuhan sama umatNya, selalu ada rencana terbaik yang Ia siapkan untuk umatNya, walaupun terkadang sulit dipahami oleh setiap umatNya. 

Contohnya niy saya yang dilahirkan dari ayah bersuku dayak dan ibu bersuku jawa. Duluuuuu banget pas masih kecil saya punya pikiran, kenapa saya gak jadi orang bule yah? rumahnya di luar negeri. Jaman segitu merinding broooh denger kata-kata luarrrr negeri. Apapun soal luar negeri kedengerannya keren gitu, yes no yes no mboten*hHaha. 

Oiya, pelajaran yang paling saya benci saat masih duduk di bangku sekolah adalah pelajaran BAHASA JAWA. Kenapa??
1. disaat teman-teman yang lain nanya ayahnya, saya harus gigit jari karena ayah saya gak bisa jawab.
2. teman-teman saya menggunakan bahasa jawa halus dalam percakapannya dengan orangtua, sementara saya? pake bahasa dikit. maksudnya dikit-dikit jawa, dikit-dikit bhs indo. bahasa jawa yang saya gunakan pun adalah bahasa jawa ngoko:kasar. Makanya saya angkat tangan deh sama pelajaran ituh.
3. sekuat-kuatnya saya berusaha tetep aja nilainya pas-pasan.

tapiiiiiiiii yoweslaaahh,

sekaraaaaaang, jaman udah berubah meeeeeeen !!!

Saya cinta INDONESIA beserta segala isinya

balik lagi ke ayah.

Banyak sekali hal yang bisa kita ceritakan tentang ayah. Salah satunya yang saya alami adalah gini. Kerinduan ayah ke anak dan ibu ke anak pastilah berimbang. Sama-sama kangen, sama-sama rindu. Tapi heran deh tiap ditelfon mama obrolan selaluuuuu panjaaaaaaang dan seringnya saya yang menutup telfon. Tetapi ketika papa yang telfon berasa telfon sambil lomba lari, singkat padat jelas dan selalu papa yang menutup telfonnya. 


Selain itu ada juga yang lain. Pada tiap kesempatan jalan-jalan keluarga, kami tak lupa membawa kamera dan handycam. Tujuannya yang pasti adalah untuk mengabadikan setiap momen keluarga. Pada momen-momen seperti ini harusnya kedua alat tersebut dibawa bergantian oleh setiap anggota keluarga supaya semua personel ikut terekam. Dalam keluarga kami tidak mengenal seperti itu. Dari awal hingga akhir liburan papa yang dominan membawanya. Di mata papa, sebaik-baik hasil rekaman maupun jepretan kami tetap saja kurang bagus bagi beliau sehingga dengan tekad kuat beliau akan mengambil alih keduanya.


Kurang lebih seperti itulah ayah saya.


Segitu dulu deh. 
udahan yah
sekian

wassalamu'alaykum wr wb.