Rumah itu terlihat
meskipun jauh....................
ini ceritanya...
Kiriman file video dari adik saya akhirnya datang juga. Isinya tentang rumah saya. Buat apa?
Jadi ceritanya gini. Beberapa waktu yang lalu ada seorang teman (lebih tepatnya kakak laki-laki yang tidak pernah saya miliki) pulang kampung. Kampung halaman kami sama yaitu Sragen, dan kamipun sama-sama anak rantau ceritanya. Sebulan sebelum kepulangannya itu saya meminta adik saya di rumah untuk mendokumentasikan rumah kami, karena isu yang beredar dalam keluarga menyebutkan ada perombakan atau renovasi kecil di rumah. Setelah itu rekaman tersebut dititipkan ke teman saya itu untuk diberikan ke saya ketika pulang kembali ke tanah rantau.
Isu-isu itu menyebutkan bahwa kamar tamu dan kamar adik saya digabung kemudian dijadikan kamar tidur orangtua saya. Adik saya pindah kamar ke kamar saya. Jadi barang-barang saya sekarang berada di kamar yang kemarin ditempati oleh orangtua saya. Isu kedua adalah dapur yang kemarin tak berjendela. sekarang ada jendelanya. Kenapa gak dari dulu dibikin jendela? soalnya tetangga belakang rumah yang adalah orang chinese itu protes. Dia bilang kalo nanti kami bikin jendela, mereka mau tinggiin lagi temboknya. Gitu deh sifatnya orang chinong, gak mau dilihat orang rumahnya. Dikiranya kita orang pribumi ngiri kali yah...Juh cuiihhhh....!!
balik ke video.
Setelah melihat video tersebut saya tidak mampu berkata-kata. Hanya air mata yang mengungkapkan segalanya. Campur aduk perasaan saya melihat rumah yang untuk pertama kalinya dalam hidup saya sudah 9 bulan ini saya tinggalkan. Saya berharap ada sadako tiba-tiba keluar dari layar dan kemudian menghisap saya kedalamnya.
Video tersebut diawali dari anjungan rumah di lantai atas. Taman yang dulu ada di sebelah kanan sekarang pindah ke sebelah kiri. Otomatis area bosscha di rumah kami tambah luas. Area bosscha di sini adalah sebutan dari kami untuk tempat melihat bintang di malam hari.
Kemudian berlanjut ke masuk rumah. Pas di depan pintu masuk itu ada kursi warna pink. Kursi itu adalah kursi yang sangat bersejarah karena menemani saya belajar dari masih esde sampai es em ma. Pada waktu kuliahpun masih sering saya gunakan sepulang dari kost untuk mengerjakan tugas di rumah.
Lanjut ke dalam kamar adik saya yang dulunya kamar saya. Nuansanya pink, dari warna dinding hingga selimut. pada waktu kamera menyorot ke meja rias, tampaklah bahwa yang membuat rekaman tersebut adalah papa. Saya pikir rekaman tersebut dibuat oleh adik saya, ternyata salah besar. Adik saya hanya jadi editor saja. Seperti yang sudah saya tulis dipostingan sebelumnya "Di mata papa, sebaik-baik hasil rekaman maupun jepretan kami tetap saja kurang bagus bagi beliau sehingga dengan tekad kuat beliau akan mengambil alih keduanya"
Sebenarnya masih banyak hal tentang rekaman itu yang bila mau akan saya ceritakan. Akan tetapi demi keamanan dan privasi keluarga maka saya cukupkan segitu saja.
Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada siapa saja yang sekarang jauh dari rumah. Sejauh apapun jarak kita dari rumah, hal itu tidak sebanding dengan perasaan rindu kita. Jauh ataupun dekat rindu itu tetap ada dan kuat. Jadi gak bener tuh yang ada di lirik awal lagunya Rindu-Agnes Monica
Selama aku menanti
Bayang-bayangmu dibatas senja
Matahari membakar rinduku
Ku melayang terbang tinggi
Kenapa saya bilang gak bener???
Karena buat saya mau matahari,bulan,dll tidak akan pernah mampu membakar rindu saya kepada rumah yang saat ini tengah saya rasakan.
(sorry mbak Agnes, kali ini kita tak sejalan. Eloh, Guweh, END!!)
aq jadi pengen nangis...hiks...ceritamu membuat rinduku menggeliat pada kampoeng halamanku...uda 2 tahun aq ga pulakm....ponaanku yg lucu2 uda pada gede...uda pada pintar ngomong...
BalasHapusMudahan kita dan kluarga kita diberi umur panjang sehingga kita dapat bersua kembali di tempat terindah muka bumi ''kampung halaman''....amin....