Selasa, 13 Desember 2011

TWAS


TWAS

Bingung memulainya darimana. Saya berharap dia ada disini. Sekarang, dan bukan nanti. Saya merindukan hangat peluknya, canda tawanya, kehangatan keluarganya. Dia mengajari saya jujur. Dan kini setelah kami jauh dan setelah semuanya terjadi,  saya baru memaknai apa yang telah dia ajarkan kepada saya. Adakah yang lebih baik dari jujur? Yang tidak melukai hatinya maupun hati kecil saya. Tanpa menyeret kami jatuh ke jurang yang paling dalam.
Kali ini saya benar-benar jatuh. Meskipun ada orang lain dihati saya, tetap tidak bisa menggantikannya di tempat itu. Sudut kecil dimana dia berdiam dihati saya. Tak pernah beranjak, meskipun sering saya membuatnya terluka. 3 tahun bukan waktu yang sebentar untuk menghapusnya begitu saja. Bagaimana saya harus menghadapinya. Saya ingin bertemu dengannya. Memeluk hangat tubuhnya. Tapi tak mampu menatap matanya.
Saya tahu waktu tidak akan pernah kembali. Sekeras atau selama apapun saya menangis, waktu tidak akan pernah iba kepada saya. Lalu bagaimana ini. Harus bagaimana saya. Mungkin sekarang hanya ada amarah dihatinya. Saya yakin sudah tidak ada cintanya untuk saya. Mungkin saya adalah perempuan paling kejam dalam hidupnya. Saya terima, HANYA UNTUK SEBUAH KEJUJURAN. Ini adalah harga paling mahal yang saya terima dari kejujuran. Saya menukar sebuah kejujuran, dengan sumber kebahagiaan yang tak pernah surut kepada saya selama ini.
Jangan pernah main-main dengan kejujuran. Karena kamu tidak akan pernah tahu apa saja yang dapat direnggutnya dari hidupmu!
Yasudah. Tegakkan kepala, lanjutkan perjalanan, hadapi semua yang ada di depan. Untuk membanggakan orangtua.
Tuhan, luangkanlah sebentar. . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar