Tadi pagi menjelang siang, saya menonton ftv berjudul “something about bali” di salah satu chanel. Cukup menarik, karena isinya sangat manusiawi sekali. Sepasang kekasih yang merencanakan pernikahan harus berpisah karena tragedi naas. Sang pria harus meninggalkan wanitanya karena tewas dalam sebuah kecelakaan. Pernikahan yang dirancang indah harus berakhir dengan air mata. Perpisahan karena jarak,waktu, dan dunia. Tragis.
Hanya sebuah ftv sih. Tapi cukup membuat saya terharu. Yang ada dalam pikiran saya saat itu mungkin sama dengan pikiran orang-orang yang saat itu juga tengah menikmati ftvnya. “Bagaimana ya jika itu terjadi dalam hidup saya?”. Tarik nafas dalam-dalam. Masih mending putus atau diputusin walaupun rasanya sama-sama hancur juga, tapi setidaknya kita masih bisa melihat atau paling tidak kita tahu dia baik-baik saja di belahan bumi yang lain.
Dalam ftv tersebut sang wanita tidak mampu menerima kenyataan bahwa sang pria telah pergi selama-lamanya. 5 tahun tidak cukup untuk membuat dia memahami kepergian kekasihnya. Bagaimana kalau itu terjadi pada kita. Seumur hidup pun mungkin takkan mampu mengobati luka itu.
Karena saya seorang muslim, maka saya mencoba memahaminya melalui pendekatan agama saya yang menyebutkan bahwa hidup, mati, jodoh, maupun rezeki sudah diatur oleh Tuhan. Kita masing-masing tidak akan pernah tahu apa yang terjadi esok hari karena semua adalah misteri ilahi.
Ini membuat saya merenungi setiap hari-hari yang sudah saya lalui. Saya adalah seorang yang perfeksionis dan egois. Terkadang saya berkhayal terlalu jauh mengenai masa depan saya. Merencanakan hal-hal yang sebenarnya belum terlalu penting. Terlalu memaksakan diri atas hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. Itulah saya.
Saya jadi teringat sebuah kalimat dialog dalam film “Letters to juliet” yang pemeran utama perempuannya Amanda Seyfried. Pemeran utama laki-lakinya saya lupa. Dalam dialog itu si perempuan mengatakan bahwa ia adalah seorang yang perfeksionis. Lalu si laki-laki menjawab “perfeksionis adalah cara halus untuk mengatakan bahwa sebenarnya kau pengecut”. Dan sekarang saya menyadari itu.
Saya menulis ini sore hari ketika hujan loh. Dalam naungan hujan saya merenung. Akhirnya saya dapatkan wacana bahwa saya harus berubah. Berubah dalam artian merubah cara pandang saya selama ini.
Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, besok, ataupun lusa. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah berusaha menjalani hari sebaik mungkin. Bersyukur atas apapun yang kita terima. Jika harus menangis maka menangislah, dan jika mampu bertahan maka tersenyumlah meskipun senyuman itu semakin menyayat luka.
Mungkin perfeksionis diatas yg dimaksud adlh perfeksionis yg muncul krn ketakukan yang berlebihan akan suramnya masa depan sehinga dianggap tidak baik...padahal perfeksionis itu bagi aq itu baik agar kita dlm menjalani hidup punya persiapan visi dan misi agar kelak hidup bahagia....
BalasHapusiya mz benar. mungkin dalam konteks ini, perfeksionis itu masih dalam makna yang mz sebutkan pertama. tapi ke depannya memang harus seperti yang kedua. ya tho??
BalasHapus